Daftar sekarang

Masuk, bos

Lupa Password

Lupa Password? Masukkan email. Kami akan kirimkan link perbaikan

Masuk

Daftar sekarang

Ayo bergabung di NUBACKPACKER

Bingkisan Terindah Isra Mi’raj untuk Sang Kekasih

Bingkisan Terindah Isra Mi’raj untuk Sang Kekasih

Perjalanan Isra dan Mikraj -seperti yang telah kita ketahui bersama- merupakan dua peristiwa yang berbeda; Isra adalah rihlah ardhiyyah (perjalanan bumi) dari Masjidil Haram sampai ke Masjidil Aqsa, sedangkan Mikraj adalah perjalanan samawiyyah (perjalanan langit) dari Masjidil Aqsa sampai naik ke Sidratul Muntaha. Mayoritas Ulama sepakat, bahwasanya peristiwa yang menjadi salah satu dari beberapa mukjizat Nabi Muhammad Saw. ini terjadi setelah Nabi Saw diutus menjadi Rasul. Dan, menurut pendapat yang masyhur, terjadi pada tanggal duapuluh tujuh Rajab, pada hari dimana beliau dilahirkan, diangkat menjadi Rasul, hijrah ke Madinah dan wafat; yakni hari senin.

Namun, sedikit disayangkan, tidak sedikit diantara kalangan kita yang pada umumnya mengenang peristiwa Isra Mikraj hanya pada setiap tanggal 27 Rajab, dan juga mengganggapnya hanya sebagai momen bersejarah belaka, yang hampa makna. Paling baik kita mengetahui; Nabi Muhammad Saw dalam peristiwa tersebut mengendarai Buraq bersama Malaikat Jibril, menuju Masjidil Aqsa, lalu bertemu para Nabi terdahulu di tujuh langit, melampaui Sidratul Muntaha dan menerima perintah sholat lima waktu.

Isra Mikraj bukanlah peristiwa tanpa makna. Perjalanan Nabi Muhammad Saw. melintasi alam semesta ini -tentunya- memiliki banyak rahasia, pesan-pesan dan isyarat-isyarat yang berharga yang akan akan membukakan kesadaran-kesadaran baru bagi yang menghayatinya.

Banyak Ulama, Ilmuwan maupun pakar yang berusaha menyingkap tabir akan rahasia, pesan dan kesan dari peristiwa tersebut. Mulai dari mengapa terjadi di malam hari, kenapa mengendarai buraq, kenapa bersama Jibril, sampai kenapa menuju Masjidil Aqsa. Dari sekian banyak rahasia, pesan dan kesan, yang termasuk pesan dan kesan agung yang dapat diambil dari peristiwa tersebut -Menurut Sayyid Muhammad al-Maliky- adalah perintah Sholat.

Pastinya, kewajiban sholat sehingga harus diterima Nabi Saw di Sidratul Muntaha, bahkan dengan proses negosiasi berulang-ulang, memiliki nilai filosofis dan pesan simbolis tersendiri.

Pertama; Dikhususkannya kewajiban shalat dalam Isra Mikraj merupakan sebuah isyarat akan keagungan faedah shalat. Oleh karena itu, kewajibannya tanpa melalui perantara, bahkan terjadi melalui proses negosiasi yang berulang-ulang.

Mengenai hal ini, Syekh Mutawalli asy-Sya’rowy -mufassir kontemporer- dalam kitab tafsirnya, membuat analogi tentang ketika seorang pemimpin hendak menyampaikan sebuah pesan ataupun tugas, ia akan menyampaikan menggunakan media-media yang lazim digunakan (seperti Telepon, SMS, WA, dsb). Namun, apabila pesan yang akan disampaikan mempunyai nilai begitu penting, sang pemimpin tersebut pasti akan langsung memanggil yang bersangkutan, dan pesan ataupun tugas yang begitu penting tersebut disampaikannya secara langsung tanpa melalui mediator apapun. Begitu juga Sholat, Allah menyampaikan seluruh ajaran agama Islam kepada Nabi saw melalui media wahyu ataupun Malaikat Jibril, kecuali Shalat, yang mana Allah sendiri yang langsung memanggil dan menyampaikannya kepada Nabi Saw. Mengingat sholat merupakan kewajiban ibadah yang paling penting dalam sistem keagamaan umat Islam.

Kedua; momentum-momentum shalat lima waktu memungkinkan seorang hamba secara berkala melakukan “mikraj ruhi”. Dengan kata lain, apabila Allah Swt telah mempersembahkan kepada Nabi-Nya Mikraj secara “ruh wa jasad”, maka Dia mempersembahkan “bingkisan hadiah” kepada umat Nabi Muhammad Saw berupa Mikraj Ruhani.

Shalat memiliki makna intrinsik yang berkorelasi dengan makna Isra Mikraj. Kedua-duanya sama-sama menjadi media untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan Allah Swt; kedua-duanya harus mengalami penyucian terlebih dahulu; dalam Isra Mikraj hati Nabi disucikan dengan air zam-zam, sedangkan dalam sholat seseorang harus dalam kondisi suci; kedua-duanya sama-sama perjalanan keluar dari jarak dunia; Nabi dalam Isra Mikraj keluar dari dunia dengan jasadnya, sementara seseorang dalam sholat keluar dengan hatinya.

Demikianlah sebagian kecil dari petunjuk, pesan dan kesan yang dapat kami pahami. Semoga kita dapat memperingati “Hari Ulang Tahun
Sholat” dengan lebih memperhatikan waktu, tatacara, dan syarat-ketentuannya. Sudah seharusnya kita saling mengingatkan sesama, dengan semisal bertanya; “kaifa shollaita?” (bagaimana kabar shalatmu?). Akhir kata;

و إن تَجِد عَيْبًا فَسُدَّ الخَلَلَا ※ فَجَلَّ مَنْ لاَ عَيْبَ فِيْهِ وَ عَلَا

Wallahu a’lamu bishshowab

Penulis : Rian Ramadhan ( Al iman Purworejo )

Tinggalkan balasan