Daftar sekarang

Masuk, bos

Lupa Password

Lupa Password? Masukkan email. Kami akan kirimkan link perbaikan

Masuk

Daftar sekarang

Ayo bergabung di NUBACKPACKER

Ikhtiar Batin: Mengetuk Pintu Langit untuk Menghentikan Corona

Ikhtiar Batin: Mengetuk Pintu Langit untuk Menghentikan Corona

Komunitas NU Backpacker mengadakan ikhtiar batin serentak berupa doa bersama di tempat berbeda untuk menghentikan virus corona (covid19).

Karena gerakan serentak, peserta yang mengikuti ikhtiar batin ini akan – dan sudah – didata melalui jaringan WA/ WAG. Alhamdulillah, sampai saat tulisan ini dibuat, data peserta yang masuk mencapai 703, baik dari dalam maupun luar negeri.

Mengapa doa? Karena dalam Al-Quran sendiri Allah “menantang” kita: ud’uni astajib lakum, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan (permintaan) bagimu. (QS Al-Mukmin: 60).

Tentu, selain berdoa adalah ikhtiar lahir kita, dan juga yang telah diupayakan pemerintah dan segenap elemen masyarakat, seperti program penyemprotan desinfektan, pemakaian hand sanitizer dan physical distancing (jaga jarak atau jaga jarak aman).

Mengapa serentak? Karena dalam tradisi dan kepercayaan kita warga Nahdliyin, doa bersama itu lebih acceptable daripada doa sendirian. Sebagaimana shalat berjamaah: jika ada satu yang diterima semua dianggap diterima. Namun, karena kondisi yang belum memungkinkan untuk berjamaah, maka dilakukan secara serentak di daerah masing-masing.

Mengapa surat Yaasiin? Karena surat ini adalah hatinya Al-Quran. “Doa yang paling mandhi (manjur) itu sebetulnya, satu pakai Al-Quran, dua pakai dzikir. Al-Quran itu singkatan (kodifikasi) kitab sejagat yang jumlahnya 124 ribu. Diperas jadi empat: Quran, Zabur, Taurat, Injil. Quran disingkat jadi surat Yaasiin,” Demikian kata KH. Abdul Ghofur, Pengasuh Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, dalam suatu kesempatan. “Surat Yaasin kalau untuk doa, bukan main mandhi (manjur)nya,” imbuh cucu Sunan Drajat, Lamongan itu.

Mengapa 313 kali? Ini sesuai jumlah pasukan Perang Badar. Jumlah sedikit bisa mengalahkan jumlah yang banyak sekali. Nabi Perang Badar tentaranya 313. Nabi Dawud perang Raja Jalut tentaranya 313. Angka 313 itu dalam Al-Quran: Kam min fiatin qalilatin ghalabat fiatan katsiratan biidznillah, wallahu ma`ash-shabirin; Berapa banyak – terjemahan lain mengartikan “kerap kali”- kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan idzin Allah, dan Allah bersama orang-orang yang sabar (QS. Al- Baqarah [2]: 249).

Dalam ijazahnya, KH. Abdul Ghafur memang menyebut agar jika mempunyai hajat, Surat Yaasin dibaca 41x, atau Faatihah 313x, atau Bismillaahirrtahmanirrahim 786x, dengan satu tujuan. Kali ini NU Backpacker memilih Yaasiin 313x, karena warga NU identik dengan Yaasinan. Meski kemudian karena antusias yang tinggi, jumlah peserta melebihi angka itu. Sehingga, ada kemungkinan peserta yang banyak ini akan diatur ulang pembagiannya sebelum acara, terkait dengan angka-angka bacaan di atas.

Di luar itu, sebagaimana dianjurkan KH. Bahauddin Nur Salim pada Haul ke-30 KH Ahmad Shiddiq Jember, mari bersama-sama kita memperbanyak membaca Istighfar. Di sela-sela rebahan kita di rumah. Di sela-sela aktivitas kita. Kita dzikir mengingat Allah semampu kita. Karena hanya Dia-lah tempat kita bergantung dari segala hal (Allaahus-Shamad).

Taat Pemimpin dalam Perang Melawan Corona
Jika melawan corona ini Ibarat perang, maka dunia kita hari ini adalah medan perang. Musuh kita satu: virus covid19. Semua kewalahan, termasuk negara kita tercinta: Indonesia. Jika perang yang dulu-dulu musuhnya terlihat, kini musuh itu tak terlihat karena dalam bentuk virus.

Kita, hari ini sudah punya panglima perang, yaitu Presiden Joko Widodo beserta segenap jajarannya. Kita rakyat ibarat pasukan infanteri yang berpontensi terserang oleh musuh begitu tinggi dalam hubungan sosial di masyarkat. Sementara di arena yang sama, tim medis berada di garda paling depan dalam hal pengobatan, yang nampaknya sudah terlihat kuwalahan.

Dalam sejarah Islam, kita ada pelajaran penting dari sebuah perang, yaitu Perang Uhud. Dalam perang ini, Nabi Muhammad sebagai pemimpin meminta agar pasukan pemanah berada di atas, apa pun yang terjadi. Namun kemudian keadaan berubah ketika pasukan di lembah mulai menang. Mereka turun, berebut jarahan. Salah satu kompi pasukan kavaleri musuh, yang waktu itu dipimpin Khalid bin Walid – sebelum ia masuk islam – memutari gunung dan mengobrak-abrik barisan pasukan muslim dari belakang. Kita kalah. Meski demikian, Nabi dan beberapa sahabat selamat setelah naik ke atas gunung.

Apa pelajaran dari peristiwa ini? Tentu, kita – sebagai “pasukan” – mesti menaati pemimpin perang. Tidak boleh berinisiatif bikin gerakan sendiri yang bertentangan dengan komandan pasukan. “Athiullah wa athiiur rasuul wa ulil amri minkum,” begitu bunyi firman Tuhan dalam (QS An-Nissa: 59). Kita mesti taat kepada Allah, Rasul dan ulil amri.

Ketaatan kepada Allah dan Rasul, sebagaimana dijelaskan Rais Syuriah PBNU Kiai Afifuddin Muhajir, itu mutlak. Sedangkan ketaatan kepada ulil amri muqayyad. Jika kebijakan itu benar, baik: untuk kemaslahatan orang banyak, tidak maksiat, kita wajib menaati. Lalu, siapa ulil amri di sini? Dalam konteks kenegaraan, tentu presiden. Dalam soal-soal agama, tentu ulama. Dalam hal kesehatan, ulil amri adalah para dokter yang ahli di bidangnya. Kita mesti menaati kesemuanya itu jika ingin selamat.

Kritik dan masukan tentu perlu, dengan tetap memakai etika yang santun. Hemat kami begitu. Juga santuy, tak emosi dan dengan kebencian. Namun sekali kebijakan diputuskan, kita mesti ikuti selama kebijakan itu baik, setelah melihat opsi dan realitas masyarakat yang ada. Opsi lockdown dirasa belum memungkinkan diterapkan di Indonesia dengan kultur-sosial dan kedisiplinan yang ada di kita. Maka, physical distancing yang sudah menjadi keputusan pemerintah itulah yang mesti ditaati masyarakat Indonesia, termasuk komunitas kita: NU Backpacker.

Teknis Iktiar Batin Kita
Sebelum Pukul 19.00 WIB dari Lingkar Pusat NU Backpacer memberikan pengantar secara live streaming via Instagram NUBACKPACKER BANJARNEGARA, dilanjutkan tawassul. Kemudian pada Kamis pukul 19,00 dimulai secara serentak. Adapun tawassul hadiah fatihahnya adalah sebagai berikut:

1) Nabi Muhammad, keluarga, sahabat, serta seluruh Nabi, Rasul, para wali, syuhada’, shalihin.
2) Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali.
3) Sayyidatina Fatimah, Sayyidina Hasan & Sayyidina Husein
4) Martir/ Syuhada’ Perang Badar (Ahli Badar)
5) Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Al-Jilani
6) Walisongo dan ulama Nusantara
7) Syaikhona Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, dan Pendiri serta Ulama Jam’iyyah NU
8) Para pemimpin dan seluruh rakyat dunia, khususnya Indonesia
9) Pada dokter dan relawan yang ada di garda depan mengurus wabah ini

Demikian maklumat ini kami buat sebagai ikhtiar kita dalam melawan virus corona (Covid19). Terima kasih atas partisipasi sobat-sobat dan sedulur NU Backpacker semua di mana pun berada. Semoga ikhtiar kita ini diijabahi oleh Allah SWT, Sang Pemilik Jagad Raya.

Purworejo, 24 Maret 2020

Lingkar Pusat NU Backpacker

M. Hidayatullah (Koordinator Pusat)
Ahmad Naufa (Penasihat)

NB :

Informasi Tambahan

  1. Peserta No 1-313 baca Yaasin ditambah Ayat Kursi 1x
  2. Peserta 312-626 baca Yaasin ditambah Sholawat Thibbil Qulub 1x
  3. Peserta 627-703 baca Yaasin ditambah Faatihah 1x

Tinggalkan balasan