Daftar sekarang

Masuk, bos

Lupa Password

Lupa Password? Masukkan email. Kami akan kirimkan link perbaikan

Masuk

Daftar sekarang

Ayo bergabung di NUBACKPACKER

Kaos NUBackpacker; Benda Mati Pemikat Hati

Kaos NUBackpacker; Benda Mati Pemikat Hati

Bermula dari rekan organisasi yang sering mengenakannya di berbagai kesempatan, aku mulai jatuh hati pada benda mati.

Sebuah benda mati yang bahkan aku-pun tak merespon sejak pertama mengetahuinya. Aku bersikap acuh, namun orang-orang disekelilingku justru kerap menjadikannya sebagai topik utama dalam berbagai pembahasan. Khususnya meraka dari kaum hawa. Tak hanya menyebutkan benda mati ini, melainkan ada sosok lain yang asumsi sempitku saat itu beliau adalah laki-laki yang luar biasa. Mengingat yang diceritakan bahwa beliau adalah pribadi yang pandai merangkai kata serta cerdas menggores cinta.

Dirundung penasaran, akhirnya ku berselancar mencari profil tentang beliau. Tak lama kemudian, akhirnya ku ketahui jika laki-laki yang dimaksud adalah Mbah Doyok. Seorang lelaki paruh baya nan berjenggot dengan tongkat rapuhnya, namun beliau tetap di ta’dhimi karena kecerdasannya. Pikirku.

Tak disangka, beliau justru lelaki tampan dan bahkan seorang gus (sebutan anak laki-laki kiai, dalam dunia pesantren Jawa). Ku ketahui hal tersebut, setelah ku dalami lagi pencarianku hingga Instagram.

Mengetahui nama akun Mbah Doyok, tak ku lewatkan untuk stalking beberapa postingan beliau. Ku temukan benda mati yang ku maksud, Kaos NUBackpacker, terbilang setia dikenakan oleh Mbah Doyok sendiri. Dalam batin ku berkata “Kok sama dengan kaos yang dipakai Aji ya”, pikirku sambil terheran-heran. Aji yang merupakan rekan satu kepengurusan di salah satu organisasi, sering ku temui mengenakan Kaos NUBackpacker. Baik saat aku dan Aji sowan bersamaan, ziarah, atau kesempatan-kesempatan lain. Kaos NUBackpacker selalu membersamai Aji. Hal ini membuatku semakin penasaran. Selain mengapa keduanya kerap mengenakan kaos yang sama, juga bagaimana NUBackpacker hadir dan diterima oleh banyak orang. Jelas-jelas NUBackpacker adalah rumah bagi mereka yang gemar jalan-jalan dan berpetualang. Pradugaku.

Aji sendiri hobi membuat WhatsApp Story dengan mengenakan Kaos NUBackpacker. Tanpa pikir panjang, saat itu ku putuskan untuk memesan satu benda mati pemikat hati itu. Selain karena keinginanku untuk turut mengenakannya seperti Aji dan Mbah Doyok, aku adalah pribadi yang gemar mendaki. Gemar melakuka perjalanan, termasuk berziarah.

Aktivitas favorit itu jarang ku lakukan, saat rutinitas struktural tak dapat ku duakan. Lama tak mendaki, meniduri pasir pantai, menikmati segarnya angin malam serta menapaki jalanan dalam sunyi dan sepi. Kadangkala ku rindukan saat-saat seperti itu. Hari-hariku penuh dengan kesibukan dengan jadwal yang padat, menuntut aku sebagai aktris utamanya untuk serius. Padahal jika boleh diakui, aku bukanlah orang yang serius dan formal-formal amat. Jika ku kenakan Kaos NUBackpacker, duniaku akan penuh dengan term liburan. Camping di pantai, mendaki gunung, semua itu akan kembali datang.

Namun ku tersadar. Rasa cintaku baru sebatas terhadap benda mati, Kaos NUBackpacker. Tanpa kemudian aku memahami secara sebustansial keberadaan NUBackpacker sendiri.

Beruntunglah aku memiliki karib, Aji tadi. Selain Aji ada pula Ikhsan. Atas dasar keingintahuanku terhadap NUBackpacker, mereka akhirnya memberiku beberapa bacaan seputar NUBackpacker, termasuk tentang Mbah Doyok. Menjadi lebih paham-lah aku tentang keduanya.

Tak berhenti pada pencarianku tentang keberadaan NUBackpacker dan Mbah Doyok sebagai salah satu pendirinya. Rasa penasaranku melejit tinggi memikirkan bagaimana NUBackpacker bisa mengakomodir banyak kaum muda, bagaimana kemudian mereka menyebut dirinya sebagai bagian dari NUBackpacker, serta bagaimana komunitas tersebar secara luas diberbagai daerah.

Lambat laun seiring berjalannya waktu, atas dasar kecintaan juga karena telah memiliki kaos bertuliskan NUBackpacker, suatu ketika bergabunglah aku dengan WhatsApp Group (WAG) NUBackpacker. Didalamnya ku temui teman-teman asing yang sama sekali tak ku ketahui sebelumnya, dan bahkan terdapat pula Mbah Doyok sebagai member group. Gila dan konyol. Bagiku saat itu.

Aku yang hanya bermodalkan Kaos NUBackpacker dan belum menjadi anggota resmi tiba-tiba dapat bergabung di WAG yang berisikan kawan-kawan dari berbagai daerah. Keberadaanku di WAG seringkali diliputi rasa bingung. Tanpa pernah melihat ada keakraban yang tersirat, tanpa pernah bersua mengutarakan rindu yang mendera, juga tanpa perkenalan. Suatu kesempatan baik membawa kami pada pertemuan, Gathering Nasional (Gatnas) NUBackpacker.

Momentum Gatnas yang saat itu diselenggarakan di Puncak Pinus Becici, Bantul, mampu menjawab semua rasa penasaranku akan NUBackpacker. Kekonyolanku selama ini akibat penasaran dengan komunitas yang ternyata mulai dirintis Tahun 2015, terjawab sudah. Meski sebelumnya pernah ku jumpa dengan Mbah Doyok pada forum tertinggi IPNU IPPNU di Cirebon, namun mengapa NUBackpacker hadir ditengah kaum muda khususnya kaum muda nahdliyyin hari ini, mengapa NUBackpacker menjadi besar tanpa melakukan perekrutan anggota, mengapa NUBackpacker kental dengan aspek paseduluran, semuanya terjawab di Gatnas.

Melalui sambutan demi sambutan yang disampaikan oleh Mbah Doyok, rasa terinspirasi dan termotivasi hadir dalam diriku. Keisengan dan niat yang tulus Mbah Doyok dalam melahirkan label NUBackpacker menjadi nilai paling ngena yang ku rasakan saat itu. Tindakan sepele namun dengan niat baik untuk mendapat Ridho Allah SWT., membawa NUBackpacker semakin tumbuh menjadi komunitas yang besar tanpa kegaduhan. Komunitas yang besar tanpa dicampuri perebutan kekuasaan, juga komunitas yang besar karena kuatnya rasa paseduluran didalamnya.

Selain sambutan Mbah Doyok yang mampu menyulap suasana forum menjadi haru dan berarti, terdapat pula sambutan Panitia Gatnas yang tak kalah menggerus hati. Sesekali memang mengundang tawa, turut pula memicu keluarnya air mata. Mereka yang tergabung dalam kepanitiaan menyampaikan bahwa terlaksananya Gatnas adalah didasari rasa paseduluran yang besar. Rasa kepercayaan satu sama lain, juga dibumbui dengan dinamika kebersamaan selama proses persiapan Gatnas hingga terlaksananya acara. Semuanya dilalui dengan ikhlas, ditambah lagi pesan-pesan pendahulu NUBackpacker yang mengatakan jika komunitas ini hidup dan tumbuh dengan kekonyolan-kekonyolan yang terjadi sejak awal berdirinya. Dan terus akan tumbuh seperti itu sampai kita sendiri tak akan mengetahui sebesar apa NUBackpacker esok hari.

Di momen Gatnas 2019 lalu rasa bangga tercipta. Masih terdapat orang-orang yang peduli dengan sesamanya, baik sesama manusia dan bahkan alam. Mereka yang saling merangkul dalam satu frame pandangan, satu tujuan, yakni Tinggi Tanpa Merendahkan.

Rumahku, NUBackpacker.

Penulis : Aisyah Putri ( NU Backpacker Sleman )

Tinggalkan balasan