Daftar sekarang

Masuk, bos

Lupa Password

Lupa Password? Masukkan email. Kami akan kirimkan link perbaikan

Masuk

Daftar sekarang

Ayo bergabung di NUBACKPACKER

Mengikis Androsentisme, Tuan dan Puan Bergandeng Tangan

Mengikis Androsentisme, Tuan dan Puan Bergandeng Tangan

Salah satu karakteristik Paradigma Androsentisme adalah norma manusia dipandang identik dengan norma laki-laki.

Seringkali pada penyebutan laki-laki, kajian, atau apapun tentang laki-laki dianggap sudah mencakup perempuan didalamnya. Padahal, penyebutan perempuan, kajian, atau apapun tentang perempuan juga perlu dilakukan secara mandiri dalam rangka pemberian nilai kebebasan perempuan sebagai makhluk, manusia, warga negara, dan kedudukan lainnya yang dimiliki.

Lahir dan hidup di muka bumi dengan berbagai macam bentuk juga cara pandang, manusia sejatinya diajarkan untuk menjadi pribadi yang siap berjuang. Termasuk berjuang dalam memenuhi hak hidupnya secara pribadi juga berjuang dalam memenuhi hak hidupnya secara kolektif.

Cenderung -meski tidak selalu- menempati posisi kelas kedua pada sektor kehidupan manusia, perempuan acap kali terlibat pada konstruksi yang diskriminatif. Mulai dari lingkup terkecil seperti pada keluarga inti yang secara praksis pun demikian, seringkali perempuan terdefinisikan begitu saja. Misalnya; Pada pernikahan yang kemudian dinilai sebagai “tempat yang lebih baik” untuk perempuan.

Hal ini menjadi perkara yang terus terjadi. Untuk menghindari atau menyelematkan perempuan dari perkara “kurang baik”, akhirnya pernikahan dilangsungkan. Padahal jika ditelisik, -bagiku- hal tersebut merupakan konstruksi yang merugikan perempuan.

Labelling yang berangkat dari anggapan bahwa kemampuan perempuan dalam menjaga diri adalah sebuah kesukaran sehingga harus dilindungi dengan ikatan pernikahan, secara tidak langsung telah mengusik perempuan dalam mengekspresikan dirinya.

Meski tujuan akhir seorang perempuan bukanlah pada terjalinnya hubungan semacam ikatan hati -relasi cinta- selayaknya pernikahan, karena derajat perempuan tidak berangkat dan tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya seorang pasangan, perempuan manapun tentu terselimuti dengan keinginan-kebutuhan untuk menikah.

Selama pernikahan dapat memberikan nilai-nilai pribadi, hukum, dan sosial kepada kedua orang didalamnya, sebetulnya tidak ada alasan untuk menolak lembaga perkawinan atau tidak perlu berfikir untuk tidak menikah. Pasangan yang hidup dalam pernikahan sehat tentu akan paham bagaimana saling berperan. Dan tentu, peran demikian dipengaruhi oleh tingkat kesadaran keduanya terhadap kesetaraan yang harus ada.

Upaya mencapai kesetaraan ‘gender’ perlu dilakukan seperti dengan dekonstruksi maskulinitas (apalagi jika telah terikat pernikahan). Padanya sama sekali tidak dimaksudkan sebagai tindak pengebirian laki-laki, namun kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sebagai suami-istri akan dapat terpenuhi jika keduanya saling berpikir terbuka.

Sebagai contoh adalah keterlibatan keduanya (termasuk perempuan) dalam aktivitas publik merupakan ekspresi demokrasi yang harus diapresiasi. Padanya bukan suatu fenomena yang malah dimarginalisasi atau bahkan dihakimi seperti yang kerap terjadi.

Karenanya,
Mari bergandeng tangan, Tuan dan Puan.

Penulis : Lily Awanda Faidatin

Tinggalkan balasan