Daftar sekarang

Masuk, bos

Lupa Password

Lupa Password? Masukkan email. Kami akan kirimkan link perbaikan

Masuk

Daftar sekarang

Ayo bergabung di NUBACKPACKER

NU Backpacker: Napak Tilas Syekh Jumadil Kubro

NU Backpacker: Napak Tilas Syekh Jumadil Kubro

Trowulan. Ada yang berbeda dengan pemandangan di graha area pemakaman Syekh Jumadil Kubro Troloyo pada sabtu (9/11/19), pagi tadi. Sejumlah anak muda mudi yang tergabung dalam komunitas NU Backpacker memadati tempat tersebut. Mereka berkumpul untuk mendengarkan kisah Syekh Jumadil Kubro usai mereka melakukan perjalanan dari sejumlah titik yang dijadwalkan.

Tokoh yang diundang untuk membedah sejarah Syekh Jumadil Kubro adalah Isno M. Pd.I (Ketua LTN NU Kab. Mojokerto) dan Mbah Doel (Ketua Lesbumi Kab. Mojokerto). Isno memulai ulasannya dari pengalamannya menulis sejarah Syekh Jumadil Kubro yang diinisiasi bersama dengan KH. Wahib Wahab dan Afandi Abdul Hadi. Ia menelusuri dengan referensi referensi yang disodorkan oleh Agus Sunyoto yang menugasinya untuk mencari di KTLV Jakarta. Isno bercerita, karena kendala finansial, maka proyek penulisan sejarah Syekh Jumadil Kubro terhenti. Dan mulai berjalan dan terwujud saat Afandi Abdul Hadi menjadi Kepala Dinas Pariwisata Kab. Mojokerto. Proyek penulisan terwujud menjadi buku yang telah terbitkan.

Dari penulisan buku yang dirampungkan, Isno menyimpulkan bahwa eksistensi Syekh Jumadil Kubro itu ada dan dibuktikan dalam manuskrip manuskrip yang membicarakannya. Seperti serat Gresik, Banten, Cirebon hingga Bugis. Pun pula sumber babad tanah jawa juga sumber dari Alawiyin.

Dari serpihan serpihan cerita serat serat, Isno melakukan rekontruksi sejarah Syekh Jumadil Kubro. Bahwa beliau adalah seorang habib yang mendakwahkan Islam ke India hingga ke Pasai. Dua anaknya yang menyertainya hingga ke Pasai, yakni Maulana Ibrahim dan Maulana Ishak. Maulana Ibrahim ditugaskan ke Campa yang kemudian memperistri anak raja Campa yang dikemudian melahirkan Raden Rahmat (Sunan Ampel). Sedang Maulana Ishak berdiam di Pasai dan selanjutnya mendakwahkan Islam hingga ke bumi Blambangan dan memperistri anak raja Blambangan yang kemudian melahirkan Sunan Giri.

Syekh Jumadil Kubro sendiri melanjutkan perjalanan hingga ke tanah Jawa. Dalam perjalanan dakwah ini, Syekh Jumadil kubro ditemani oleh Dewan sembilan, ulama pilihan yang memiliki kemampuan linuweh. Seperti Syekh Subakir yang memiliki kemampuan meruqyah tempat tempat angker.

Dewan sembilan ini menyebar ke berbagai pelosok tanah jawa. Syekh Jumadil Kubro sendiri memilih berdakwah ke Majapahit. Di Majapahit ini, Syekh Jumadil Kubro diterima dengan baik oleh raja. Bahkan diberi tanah perdikan yang bebas dari membayar upeti. Ia juga dijadikan sebagai penasehat raja dalam urusan agama Islam.

Estafet dakwah ini kemudian diteruskan oleh cucunya yakni Sunan Ampel yang datang ke Majapahit dan kemudian mengembangkan Islam di Ampel Denta. Konon Syekh Jumadil Kubro sendiri akhirnya melanjutkan perjalanan hingga ke Bugis. Selama perjalanan ini ia terus menyebarkan agama Islam.

Yang kemudian menjadi permasalahan, sebagaimana pertanyaan yang disodorkan oleh Isno kepada anggota NU Backpacker, dimana Syekh Jumadil Kubro meninggal? Apakah di Trowulan, Banten, Cirebon, Bugis atau di Mekkah?

Isno mengutip penelitian ST. Damais, arkeolog asal Prancis, yang meneliti tujuh nisan yang ada di Troloyo. Dari penelitiannya tidak diperoleh data nama ketujuh makam tersebut. Pun nama Syekh Jumadil Kubro. Tetapi bukankah kebanyakan makam di Nusantara pada zaman dahulu tak bernama? Kecuali Fatimah binti Maimun Leran Gresik.

Kesimpulan Rickhles, tentang makam Islam di tengah Kerajaan Majapahit, katanya, adalah makam tahanan Majapahit yang pernah menyerang Pasai. Tetapi ini dibantah oleh tokoh lain, ke tujuh makam itu adalah orang penting dalam kerajaan yang memang beragama Islam.

Mbah Doel, melanjutkan keterangan Isno dengan mengutip informasi dari keluarga Kyai Hasan. Kyai Hasan sendiri adalah seorang Kyai yang pasca peperangan Diponegoro hendak ziarah ke Makam Kakeknya, Kyai Marzuki, di Desa Mantingan Kec. Jatirejo. Sampai di area Troloyo, Kyai Hasan mendapati sebuah mushola tak terawat. Ia kemudian membersihkannya. Usai membersihkan, ia dibuat penasaran dengan keberadaan mushola tak terawat itu. Ia akhirnya melakukan riyadoh. Dan dari hasil riyadohnya itu ia memperoleh isyarat kalau ditempat itu terdapat makam leluhurnya. Ia pun mulai membersihkan daerah sekitar mushola itu. Dan akhirnya menemukan tujuh makam troloyo itu. Yang salah satunya makam Syekh Jumadil Kubro.

Kyai Hasan kemudian menetap di daerah itu sambil merawat makam troloyo. Hingga beranak turun. Sampai ke Kyai Ilyas. Dan Kyai Ilyas itu punya murid bernama Kyai Mail Brangkal yang dikemudian mengadakan haul untuk Syekh Jumadil Kubro. Kebiasaan itu kemudian diteruskan oleh Gus Din, putranya Kyai Mail. Dan oleh Gus Dur, diusulkan dibangun saat beliau menjadi Presiden. Dan resmi dibuka dengan bangunan megah saat Megawati menggantikan Gus Dur.

Tinggalkan balasan