Daftar sekarang

Masuk, bos

Lupa Password

Lupa Password? Masukkan email. Kami akan kirimkan link perbaikan

Masuk

Daftar sekarang

Ayo bergabung di NUBACKPACKER

Valentine dan Foto KH. Hasyim Asy’ari

Valentine dan Foto KH. Hasyim Asy’ari

Sejak 15 tahun yang lalu, saat pertama mengetahui jika Tanggal 14 Februari diperingati sebagai Hari Valentine, bagiku tidak ada alasan mendasar untuk memaknai hari tersebut sebagai hari paling spesial ketimbang 365 hari lainnya. Setiap tahun, di Tanggal 14 Februari, orang-orang disibukkan dengan belanja bunga. Pasangan kekasih saling menghadiahi coklat seharga puluhan bahkan ratusan ribu, atau sekedar merayakannya dengan makan malam bersama.

Bersyukur saat 2013 ku temukan suatu bacaan. Dimana melalui bacaan tersebut, akhirnya ku ketahui jika Mbah Hasyim Asy’ari lahir di Jombang pada Tanggal 14 Februari. Semacam menemukan alasan lebih logis untuk menyebut 14 Februari sebagai hari yang spesial. Tak lagi bermodal embel-embel Hari Valentine, melainkan jika ada pertanyaan akan hadir jawaban yang lebih substansial; 14 Februari menjadi spesial karena di tanggal tersebut Allah memberi kebahagiaan Bumi dengan lahirnya seorang kiai, guru, panutan, beliau Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Termasuk pada Tahun 2020 ini, hari lahir Mbah Hasyim menjadi satu diantara hari-hari paling meramaikan jagat media sosial. Khususnya bagi mereka yang hidup dan tumbuh dengan background NU, mereka yang namanya terdapat dalam struktural Banom NU, para supporter NU, santri-santri Mbah Hasyim, semua bersuka cita mendo’a paling tulus untuk Mbah Hasyim.

Seperti status WhatsApp dan Instagram story, pun sejak semalam dipenuhi pamflet yang berisikan ucapan untuk Mbah Hasyim. Ungkapan-ungkapan Mbah Hasyim yang kemudian disebut quotes oleh kaum muda, serta segenap foto beliau tanpa tulisan apapun. Baik unggahan yang berangkat mengatasnamakan suatu organisasi, komunitas, atau perkumpulan tertentu, juga unggahan atas nama pribadi. Seolah semua kontak dan teman di sosmed menjadi girang di hari lahir kiai dengan kebiasaan membaca Shahihul Bukhari ini.

Saat mengakses google dengan pencarian “foto Mbah Hasyim”, menjadi jawaban pasti bahwa yang muncul adalah foto beliau dengan ekspresi sedikit menunduk. Mengenakan kopyah putih dibalut udeng ikat berwarna hijau lumut dan beromotifkan garis putih tulang, foto Mbah Hasyim kerap dijadikan kiblat bagi mereka pecinta seni semacam karya lukis. Di pasaran, di galeri seni, online shop, foto setengah badan Mbah Hasyim menjadi yang paling diketahui masyarakat luas.

Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang disampaikan oleh salah seorang Instruktur Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU). Tiga bulan lalu, saat ku tergabung pada forum PKPNU, instruktur menyampaikan jika seyogyanya kita sebagai masyarakat umum dan khususnya sebagai kader NU mengetahui bahwa foto Mbah Hasyim yang layak dipublikasi adalah foto beliau dengan gambar penuh. Gambar yang menghadirkan wajah Mbah Hasyim menghadap tegak, mengenakan udeng ikat berwarna putih, berkemeja putih dengan sarung yang ditutup jas panjang berwarna merah kecoklatan. Plus dilengkapi dengan tongkat pemberian Mbah Cholil Bangkalan, guru beliau.

Sungguh ku aminkan jika yang disampaikan oleh Instruktur idolaku saat itu sebagai hal baru yang wajib dibagikan. Hal yang “bisa jadi lebih valid” meski ku sendiri lupa sumber manakan yang digunakan beliau (Instruktur) hingga menyampaikan kepada peserta PKPNU untuk memviralkan foto Mbah Hasyim dengan versi yang lebih tepat. Selain itu, mengingat jika forum sekelas PKPNU bersifat tertutup dengan materi yang tak sembarangan, tentu segala yang disampaikan oleh instruktur berpedoman pada standar kurikulum yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan. Dirumuskan melalui pertimbangan dengan dasar hukum yang jelas, untuk kemudian dibagikan sebagai bekal menghidupkan kehidupan manusia bernafaskan Ahlussunah Wal Jama’ah An-Nahdliyyah

Penulis : Lily Awanda Faidatin

Tinggalkan balasan