Daftar sekarang

Masuk, bos

Lupa Password

Lupa Password? Masukkan email. Kami akan kirimkan link perbaikan

Masuk

Daftar sekarang

Ayo bergabung di NUBACKPACKER

Bolehkah Yang Bukan NU Gabung NU Backpacker?

Bolehkah Yang Bukan NU Gabung NU Backpacker?

Judul di atas seringkali ditanyakan. Tidak kali ini saja. Dan tentu jawabannya tak bisa hitam putih: boleh atau tidak boleh.

NU Backpacker terdiri dari dua kata. NU, kita tahu sendiri: ormas Islam yang berpegang pada Aswaja an-Nahdliyyah. Dari kata ini saja, tentu kita bisa menjawab: “bolehkah saya yang non-muslim gabung jadi anggota atau pengurus NU?”. Dan saya kira, jika misal, ada celetukan “NU Cabang Katholik,” itu hanya sebatas candaan belaka.

Kedua, Backpacker. Adalah seorang pembawa rangsel, pejalan kaki, pengelana, dst. Kata Backpacker ini umum. Ada di mana-mana. Di Indonesia maupun dunia. Pula banyak akun backpacker di medsos jagad maya.

Lalu, apa itu NU Backpacker? Jawabannya adalah anak-anak muda NU (meski ada juga yang tua tapi bersemangat muda), yang doyan berjalan, berkelana, mendaki, mencintai lingkungan, peduli sesama, belajar dari satu ke lain orang, satu ke lain tempat. Dari itulah, salah satu “program” NU Backpacker adalah ziarah, dan atau sowan ulama.

Lalu, apakah selain orang yang berlatar belakang NU boleh ikut atau gabung NU Backpacker? Jawaban dari saya, ditafsil.

Pertama, jika yang dimaksud “gabung” atau “ikut” NU Backpacker itu adalah “meninggalkan yang lama menuju yang baru”, sangat-sangat boleh. Seperti dari non-muslim menjadi muslim, atau dari bukan NU menjadi NU.

Kedua, jika yang dimaksud “gabung” atau “ikut” itu dengan tetap berlatarbelakang Non-NU, dan mempertahankannnya, ada pengecualian. Yaitu, dia dari organisasi yang secara fikrah, amaliayah maupun harakah tidak bertabrakan dengan NU.

Bagaimana kalau bertabrakan? Tentu ini membahayakan nama NU itu sendiri, meski kita bukan banom resmi, tapi kita secara terang-terangan menyatakan diri: NU. NU Backpacker.

Ketiga, menurut saya, sekali lagi menurut saya, kalau ada yang ingin gabung tapi dengan tetap mempertahankan yang lama, tetap tidak bisa. Kata NU menurut saya adalah batasan itu sendiri. Batasan bagi kelompok antara NU dan bukan NU. Antara anak yang belum terafiliasi dengan ormas tertentu dan mau bergabung di NU.

Lalu, solusinya bagaimana? Untuk yang “kelompok” berbeda, kita sudah ada pedoman tiga ukhuwwah itu. Kita bisa kumpul dan bahkan bikin acara bareng, tanpa harus mereka jadi kita atau kita jadi mereka. Yang beda jangan disamakan, yang sama jangan dibedakan.

Saya sendiri punya teman dari berbagai ormas Islam, bahkan dari kalangan non-muslim. Dengan ormas Islam lain kita ketemu di peringatan Tahun Baru Islam. Dengan non-muslim kita ketemu di peringatan 17-an, atau event serupa. Ke depan kita juga bisa bikin even bareng komunitas-komuniatas lain. Kita tetep bisa ngobrol santuy dengn mereka.

Oh iya, lagi pula, jika yang bukan NU kok masuk di NU Backpacker, akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam kegiatan, baik bagi kita maupun bagi mereka. Misal ia yang tidak suka ziarah, kok kita ajak ziarah. Atau misal ia yang menolak Pancasila, kok menjadi bagian dari anggota kita. Itu saya kira akan merepotkan.

Demikian sekilas pandangan saya selaku yang dituakan di NU Backpacker. Kita adalah santri jalanan yang ikut apa kata kiai dengan cara kita. Kita ingin mengenalkan NU dan syukur-syukur diterima mereka, dan mereka mau gabung dengan kita. Lalu kita belajar dan berproses bersama di keluarga besar ini.

Sebagai komunitas yang masih belia – kurang dari lima tahun – kita memang belum punya aturan resmi tentang ini. Dan memang sebisa mungkin kita tak banyak aturan yang mengikat, tapi lebih mengedepakan pengertian dan saling memahami.

Demikian, semoga bisa memberi sedikit pencerahan. Kurang lebihnya mohon maaf.

*Penasihat NU Backpacker Pusat

About ahmadnaufa

Penikmat kopi, rokok, sastra dan sejarah. Menyukai lagu-lagu Nasida Ria dan Iwan Fals.

Follow Me

Tinggalkan balasan