Daftar sekarang

Masuk, bos

Lupa Password

Lupa Password? Masukkan email. Kami akan kirimkan link perbaikan

Masuk

Daftar sekarang

Ayo bergabung di NUBACKPACKER

Tentang ku dengan laut

Tentang ku dengan laut

Aku seorang gadis kecil yang katanya “periang” di saat bersama. Senang berkelana menyusuri berbagai tempat. Berteman dengan siapapun , berkelana kapapun itu. Namun di balik semua itu , ada hal yang sangat mengejutkan yaitu aku phobia “laut”. Aku mulai kisahnya dari sini.

Tahun 2007, tubuh mungil ini mulai berkelana menyusuri pulau dewata bersama kedua orang tua. Riang gembira berlari kesana kemari, tidak ada beban sama sekali yang kurasa waktu itu. Namun Tuhan adalah Pencipta skenario yang tak pernah bisa di duga. Tubuh mungil ini terseret ombak, yang kurasa hanya gelap dan suara gelembung air yang mengerikan lantas beberapa detik kemudian aku tak lagi merasakan apa apa , mata ku terpejam dan detak jantung ku perlahan menghilang. Tapi malaikat masih berbaik hati mengirimkan seorang nelayan pantai Sanur yang bersedia menolong tubuh mungil ini.

Mata ini kembali terbuka, menatap sinar mentari, mendengar kan tangis ayah ibu dan merasakan pelukan hangat seorang ibu. Tangisku pecah , tak tau arti dari semua yang aku alami. Aku terlalu dini mengerti hal yang terjadi, aku hanya melihat ibuku berterima kasih kepada seseorang nelayan sembari menangis. Lalu bersama sama berterima kasih dengan Tuhan , telah memberi nyawa ku kembali.

5 tahun kejadian di pulau dewata berlalu, namun saat tidurku selalu bermimpi gelap dan suara gelembung mirip di saat aku teseret ombak, aku selalu menangis saat di ajak ke pantai. Tapi ayah ibu bersikeras mengajak ku berkelana ke pantai Pangandaran. Kejadian yang aku alami 5 tahun silam teringat kembali di saat aku menapaki pantai Pangandaran. Tubuh mungil ini kembali menangis , merengek meminta pulang. Padahal dulu tubuh ini sangat periang ketika di ajak ke pantai , bermain air , bermain pasir dan berenang sembari bersorak ramai menikmati ombak. Semua itu seakan menjadi kenangan manis yang tak akan pernah ku alami kembali.

Tahun 2012 aku kembali mengunjungi pulau Dewata, kala itu tanah lot sedang surut. Aku berani turun kebawah namun kembali pingsan saat menyusuri pantai karena rasa takut yang amat dalam. Sungguh ini perjalanan paling buruk yang pernah ku alami.

Tubuh mungil ini mulai tumbuh menjadi gadis dewasa yang penuh suka dan duka. Di 16 tahun umur ku , aku kembali di ajak menyusuri pulau dewata. Pertama aku mengelak , aku takut hal yang dulu terjadi terulang kembali. Semua sahabat ku memotivasi aku, untuk melawan ketertakutan ku. Aku menyakinkan diri ku sendiri, memberanikan diri mengalahkan ketertakutan. Tubuhku kembali menyusuri pulau Dewata. Dengan berani aku berjalan menuju pantai kute. “Bismillahirrahmanirrahim” ucapku dalam hati , tangis ku pecah. Pelukan hangat sahabatku mengingat kan pelukan hangat ibuku 12 tahun lalu saat kejadian mengerikan itu menimpa ku. Haru pilu menjadi satu, merayakan keberanian ku melawan phobia. Kakiku merasakan  ombak yang ku anggap hantu, kembali berkenalan dengan samudra dan berdamai dengan ombak. Tangis ku pecah lagi, mata ku terpejam dan batin ku berbiacara “ayah, ibu. Gadismu telah berdamai dengan ombak.” Suara gelembung air kembali terngiang , tangis ku kembali pecah dalam diam. Melihat kawan kawan riang gembira bermain air dan bermain pasir. Batin ku kembali berucap “sebahagia itu kah berdamai dengan semesta Mu Tuhan.” Tanpa sadar senyum ku terukir , ikut merasakan kegembiraan mereka. Semua sahabat ku sorak ramai ramai menggandengku , semua bergandengan tangan menuntunku menyusuri pantai. Berdamai dengan ketertakutan ku sembari mengukir kenangan indah di pulau Dewata.

Tinggalkan balasan