Daftar sekarang

Masuk, bos

Lupa Password

Lupa Password? Masukkan email. Kami akan kirimkan link perbaikan

Masuk

Daftar sekarang

Ayo bergabung di NUBACKPACKER

Pesan Dari Warung Santri Gunung Prau

Pesan Dari Warung Santri Gunung Prau

Cerita ini ingin saya tulis sejak lama karena terjadi sekitar dua  bulan yang lalu. Selepas kegiatan SILATNAS NUBackPacker ada salah satu sobat dari Bogor dan Banten mengajak saya dan sobat saya Autor untuk mendaki gunung Prau. namanya Aim dari Bogor, Ahi dari Banten, dan satu lagi Hendri dari Tangerang.

Tanpa pikir panjang lagi pula posisi lagi selo dan butuh nutrisi alam, akhirnya saya iyakan. Perjalanan kita awali pukul 13.00 WIB. Berangkat dari basecamp NUbackpacker naik grab sampai di plaza kota kemudian dilanjut naik Bus 3/4 sampai di terminal Mendolo Wonosobo. Kemudian dilanjut mengambil jurusan ke Dieng – Batur. Dari awal sudah kita putuskan untuk naik via Patak Banteng. Ya.. walaupun tracknya agak terjal dan menukik ke atas, akan tetapi patak banteng adalah jalur terdekat untuk sampai ke puncak. Pukul16.30 kita sampai di basecamp patak banteng. Sebelum melanjutkan perjalanan kita sempatkan bersih diri, sholat ashar dan nyebat doloe… Sambil menyelesaikan simaksi kepada penjaga basecamp.

Sengaja kita memang ingin naik sebelum maghrib karena ingin nyantai di atas menikmati indahnya gunung prau yang terkenal dengan golden sunrisenya. Tepat pukul 17.00 akhirnya kita naik. hingga menjelang petang maghrib kita sampai di pos satu dan beristirahat. Seusai adzan  kita lanjutkan perjalanan setelah jalan cukup lama sekitar 30 menit kita sampai di pos dua. Ternyata masih ada warung buka. Karena kita siang tadi lupa sarapan akhirnya perjalanan ini kita akhiri dulu sambil istirahat mumpung ada WC kita sempatkan sholat Maghrib dan MCK.

Nah cerita yang menarik akan saya tulis disini. Sesuai judul tadi “Warung Santri Gunung Prau”  bagaimana tidak bisa saya katakan jika ini warung santri, karena penunggu warungnya saja  santri Lulusan PP. Ploso Kediri. Pak Kholidin namanya usianya udah separuh abad tapi badannya masih tegap, suaranya keras, mukanya kayak preman. tapi ngomongin nahwu sorof hafal bolak balik. Keren pokoknya deh…

Yang paling istimewanya lagi adalah beliau orang NU, bagaimana tidak lama dan asyik kita berbincang. Baju kita aja seragam menggunakan atribut komunitas NUbackpacker. Akhirnya yang sejak awal kita rencanakan hanya untuk makan dan MCK di warung malah sampai kebablasan berbincang lama sejak bada maghrib sampai pukul 22.00. Kita akhiri  perbincangan itu dengan foto bareng dan berpamitan melanjutkan perjalanan. Ada banyak cerita sebetulnya yang bisa saya tulis disini. Tapi mungkiin beberapa pesan pak Kholidin saja yang saja untuk sobat sobat nubackpacker. pesan beliau masih saya ingat sampai saaat ini.

“tak penting seberapa cepat dan banyak gunung yang kita daki, apabila tidak bisa menjadi kemanfaatan dalam hidup kita, jika ada atau tidaknya kita tidak merubah apapun di dunia, maka itu adalah kegagalan dalam hidup”

Sangat terngiang-ngiang sampai saat ini di otak saya. Rasanya tak rugi kita duduk lama di warung itu, siapapun sobat yang mendaki lewat patak banteng monggo sempatkan duduk minum teh manis atau makan semangka. Barangkali banyak ilmu yang bisa kita ambil dari beliau.

Itu saja mungkin, sekedar info buat sobat – sobat saja. memang benar, sama seperti slogan kita “karena setiap pengalaman adalah pelajaran, bukan sebatas perjalanan”  perjalanan ini bukan hanya pengalaman saja akan tetapi banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Pintar – pintar saja menikmati perjalanan dan memaknai setiap pelajaran.

Salam NUbackpacker Sobb…

“Tinggi Tanpa Merendahkan.”

Akan saya tulis lagi kelanjutan cerita ini. ada yang menarik pas kita pulang lho..

Tunggu saja. tak kasih bocoran judul “Misuh Kepada Tuhan”

see you next time artikel selanjutnya sob…

About Azis

Berbuat Baiklah, maka keadaan akan semakin membaik. karena tuhan adalah maha baik.

Follow Me

Komentar ( 4 )

  1. mantaap mantap,,gunung menjadi tempat refleksi dan intropeksi diri, selanjutnya kembali kepada dunia aplikatif dimana tubuh dan pemikiran kita menjadi manfaat bagi manusia dan semesta.
    salam tinggi tanpa merendahkan
    dan setinggi apapun kita berada, kita tetap butuh tempat berpijak.
    mencairlaah.

Tinggalkan balasan