Daftar sekarang

Masuk, bos

Lupa Password

Lupa Password? Masukkan email. Kami akan kirimkan link perbaikan

Masuk

Daftar sekarang

Ayo bergabung di NUBACKPACKER

Hilangnya Jiwa Kotaku – KEBUMEN

Hilangnya Jiwa Kotaku – KEBUMEN

Kebumen adalah kotaku yang terkenal dengan burung lawetnya dari logo kota kami dan juga sebuah tugu yang hampir setiap tahun di ganti desainnya. MeskipunKebumen terkenal dengan simbol burung lawetnya, tapi sebenarnya sekarang bukan kami produsen sarang terbanyak.

Dulu Kebumen yang masih bernama Kebumian memiliki penghasilan tetap setiap tahun berupa sarang burung lawet yang mensejahterakan rakyatnya. Karena itu burung lawet di resmikan menjadi simbol Kota Kebumen dan bisa dikategorikan sebagai jiwanya. sarang yang bisa di panen 4x dalam satu tahun itu bisa membuat mencapai 5 kwintal sekali panen. Tapi suatu hari, hasil panen menurun bahkan hanya menghasilkan 1 ons.

Jika burung lawet hilang, kemana jiwa kotaku ini?

Ada dua versi cerita yang bisa di jadikan fakta atau justru sebuah legenda.

Cerita pertama hanya mengisahkan tentang penggundulan hutan yang menyebabkan perubahan pola ekosistem di lingkungan sekitar sarang. Hal tersebut membuat burung lawet kekurangan makanan dan bisa jadi mati atau justru hijrah mencari hutan lain.

Cerita kedua adalah sebuah cerita yang berasal dari zaman penjajahan Belanda tentang sebuah seorang patih kerjaaan Kertasura.

Waktu itu seorang istri raja mengalami sakit keras yang sulit untuk disembuhkan. Kemudian Sang Raja bersemedi untuk mendapatkan petunjuk. Dalam semedinya beliau di informasikan bahwa istrinya hanya bisa di sembuhkan dengan jamur yang tumbuh di atas batu yang berasal dari air liur burung lawet. Sang Raja pun diberitahu untuk pergi menyusuri pantai selatan untuk mendapatkan jamur tersebut.

Setelah mendapatkan petunjuk tersebut Sang Raja langsung mengutus patih kerajaan untuk mencari jamur tersebut.

Di tengah perjalanan Sang Patih bertemu temannya yang kemudian menemani nya untuk mencari jamur yang di maksud.

Merekapun pergi ke barat  sampai tiba di Desa Karang Tengah dan melihat ada batu yang berlubang lalu didekati dan masuk, karena batu itu tembus kedalam maka batu itu dinamai Batu Pengintipan/ pengintaian. Dan dari batu tersebut mereka mengintai burung-burung lawet untuk mengetahui sarangnya.

Ternyata ada 3 sarang yang berada di Desa Karang Tengah, Desa Pasir dan Desa Karang Duwur.

Setelah mengetahui letak sarang burung lawet, Sang Patih kembali ke kerajaan untuk melapor ke Sang Raja dan mengambil alat untuk mencabut jamur yang tumbuh di batu itu.

Setelah membawa semua yang di butuhkan,Sang Patih kembali lagi ke Desa Karang Tengah bersama ke dua pengikutnya. Sebelum memetik jamur, Sang Patih sowan ke Kepala Desa untuk meminta izin. Dimana meraka mendapatkan izin namun nampak seperti tantangan. “Silahkan saja kalau bisa” ucap Kepala Desa waktu itu.

Karena posisi jamur yang berada di ketinggian, Sang Patih dan pengikutnya membuat tangga dari tali. Tapi setelah mereka di dalam, Kepala Desa datang dan memotong tali tangga dan membuat Sang Patih dan pengikutnya terjatuh. Tapi karena kesakitan mereka, mereka bisa selamat dan langsung sowan lagi ke Kepala Desa.

Di rumah Kepala Desa, mereka di jamu dengan ingkung yang sudah di bubuhi racun. Tapi Sang Patih tidak bisa di kelabuhi. Menyadari ingkung yang disajikan sudah ditambahi racun, Sang Patih pun melempar ingkungnya yang kemudian berubah menjadi ayam. Melihat hal tersebut, Kepala Desa melepaskan ikat kepalanya yang ternyata bisa berubah menjadi burung gagak. Kedua burung tersebut akhirnya bertarung tapi tidak ada yang menang dan kalah. Ayamnya kembali menjadi ayam dan burungnya kembali menjadi pengikat kepala.

Saat itulah Kepala Desa penasaran dengan Sang Patih karena selama ini belum ada yang bisa menandingi kesakitannya. Sang Patih pun bercerita bahwa sesungguhnya mereka adalah utusan dari Kerajaan Kertasura. Menyadari kesakakesala, Kepala Desa berusaha meminta maaf. Tapi karena amarah Sang Patih sudah terpancing, beliau justru menyumpahi Kepala Desa yang berbunyi

 “Desa Karang tengah ini saya ganti namanya Menjadi Desa KARANGBOLONG berdasar atas Goa Batu Pengintipan dan tedak pitu turun wolu “ lurah Karangbolong tidak bisa ketempat goa sarang burung jika ada yang ke goa maka akan terkena bencana”, dan “warga desa juga tidak ada yang bisa menjadi pegai negeri”, “ jika  pegawai sarang burung sudah di angkat menjadi pegawai negeri secara serentak maka sarang burung lawet sudah hilang dan tidak bisa kembali lagi” dan “ Desa ini bisa kembali jaya jika di kemudian hari sudah ada Wisata Desa yang bernama “ PUNCAK WISATA ALAM  GOA SARANG BURUNG WALET ASLI DESA KARANGBOLONG”

Alhamdulillah sekarang meskipun burung lawet tidak sebanyak zaman dulu tapi masih ada beberapa burung yang sering terlihat berterbangan.

Wallahua’lam….

About Kunti Khusaeni

Orang yang enggan berdiam diri dan memilih bergerak melewati tapal batas demi perubahan

Follow Me

Tinggalkan balasan