Daftar sekarang

Masuk, bos

Lupa Password

Lupa Password? Masukkan email. Kami akan kirimkan link perbaikan

Masuk

Daftar sekarang

Ayo bergabung di NUBACKPACKER

Jejak Perang Jawa di Joholanang

Jejak Perang Jawa di Joholanang

JEJAK PERANG JAWA DI JOHOLANANG

Desa yang beralamat di Joholanang, Sindumartani Ngemplak Sleman Yogyakarta. Desa ini berada tepat di perbatasan antara Sleman dan Klaten. Dan Joholanang ini merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi Pangeran Diponegoro karena beberapa kali disebutkan di babat yang ditulis Pangeran Diponegoro.

Pada pupuh ke 30 tembang asmorondono pada bait kelima, diceritakan pada saat itu terjadi surat menyurat antara Kyai Mojo dengan Jendral De Kock, pada bait kelima ini Jendral De Kock menyatakan bahwa diasudah menjadi penguasa di tanah Jawa oleh sebab itu dia mengajak Kyai Mojo bertemu. Kemudian Kyai Mojo memerintahkan Basah Abdul Muhyi kemudian Basah Bbdul Muhyi datang bersama 1000 prajurit tetapi pada saat Pangeran Diponegoro mengetahui Beliau tidak tega dengan Basah Abdul Muhyi maka kemudian Pangeran Diponegoro ikut datang tetapi dengan sembunyi”. Pangeran Diponegoro datang dari Thoyo Kendel (banyu meneng yang berada di Pengasih Kulonprogo) . Jendral De Kock kemudian juga menanyakan pada Kyai Mojo apakah Pangeran Diponegoro juga akan ikut datang menemuinya.

Pada bait 10 juga disebutkan bahwasanya utusan Jendral De Kock juga menanyakan apakah Pangeran Diponegoro akan ikut datang pada pertemuan itu karena seandainya yang datang itu bukan Pangeran Diponegoro maka dari belanda juga yang datang bukan Jendral De kock melainkan utusanya. Dan Kyai Mojo juga diminta dari belanda agar pertemuanya ada di Klaten bukan di Joholanang ( utusan dari Belanda tadi namanya Rejodikromo/Jodikromo ) setelah mendengar tentang permintaan pemindahan tempat pertemuan tersebut Kyai Mojo agak marah dan bertanya “ ke Klaten untuk apa?, mau cari apa di Klaten?, mau tidak mau Jendral De Kock harus datang ke Joholanang karena itu sudah dijanjikan” setelah penuturan dari Kyai Mojo, Jodikromo kemudian kembali untuk menemui Jendral De Kock yang saat itu ada di Boyolali, disana dia juga bertemu Stuers dan Jendral De Bush. Kemudian setelah itu Jendral De Bush dan De Kock mengutus Stuers untuk bertemu Kyai Mojo di Joholanang. Kemudian Stuers berangkat bersama Ngali Ketip, Syarip Khasan dan Khaji Sholo, mereka juga dibawakan surat yang sudah diberi tanda dari Jendral De Kock dan De Bush serta tanda dari Belanda. Maka kemudian berangkatlah Stuers dengan surat tadi. kemudian Jodikromo menyampaikan yang datang bukan para Jendral melainkan Stuers. Kemudian pertemuan dipindah ke Junud ( sebelah timur dari Joholanang dengan jarak kurang lebih 3-4 km ) karena yang berangkat bukan para Jendral melainkan Stuers, maka kemudian berangkat dan sampailah Kyai Mojo di Junud dan bertemu Stuers.

Pada bait ke 41 dijelaskan ketika ada pertemuan di Junud Pangeran Diponegoro menunggu di Joholanang. Ditembang ini diceritakan setelah pertemuan di Junud Kyai Mojo kembali ke Joholanang dan disana Pangeran Diponegoro sudah menunggu dengan duduk disebuah batu ( diperkirakan pangeran Diponegoro ini duduk dibatu sekitaran sendang yang ada di Joholanang, sendang ini menurut cerita leluhur disana merupakan sendang warisan dari Walisongo yaitu Sunan Kalijaga yang diceritakan waktu itu dalam perjalanan menyebarkan Agama Islam dan singgah untuk istirahat dan Sholat disana, pada waktu itu diceritakan belum ada mata air disendang tersebut maka dengan karomah yang diberikan oleh Allah kepadanya dengan cara memukulkan tongkat ke tanah munculah mata air tersebut dan sampai sekarang masih ada dan memiliki pancaran sumber air yang besar.

Pada bait ke 62 setelah Pertemuan Kyai Mojo dengan utusan belanda itu terjadi sebuah Peperangan, pada sebelumnya juga diceritakan tepatnya pada bait ke 56 pangeran Diponegoro menjelaskan terjadi peperangan di Kejambon, disana diceritakan ada Basah Hasan Besari yang berada dibarisan depan dan dibelakangnya adalah Prajurit Pajang dan pada malam harinya Prajurit Pajang ini melakukan perampokan pada pasukan Belanda yang sudah mendekati Joholanang, kemudian pada pagi harinya terjadilah perang besar yang dipimpin Tumenggung Sutoyudo yang ditemani Mas Ronggo dan beberapa Basah. (disini Pangeran Diponegoro menyebutkan bahwa Sutoyudo dan Ronggo beserta Basah sampailah pada takdirnya yaitu gugur menjadi Pahlawan Sabiluloh) kemudian Pangeran Diponegoro menyerahkan kepemimpinan disana pada adiknya yaitu Pangeran Abdul Majid kemudian Pangeran Diponegoro kembali menuju Banyumeneng atau Thoyo kendel dalam sebutan di Tembang.

Didesa Joholanang itu ada sebuah tempat yang disitu ada makam kuno yang tidak diketahui dan tidak teterawat yang diperkirakan oleh seorang keturunan Pangeran Diponegoro itu merupakan makam para prajurit Pangeran Diponegoro karena Pangeran Diponegoro sendiri menjelaskan bahwasanya disitu terjadi perang yang sangat besar dan dasyat serta disana juga ada pohon kemuning yang menjadi ciri dari sesuatu yang berkaitan dengan Pangeran Diponegoro.

Disebuah buku yaitu legiun mangkunegaran yang ditulis Mas Iwan Santoso juga menceritakan bahwa disitu terjadi perang besar yang meluas sampai ke Daerah Jiwan dan dijelaskan juga bahwasanya di peperangan tersebut memakan korban tewas yang sangat banyak, baik dari pihak pasukan Pangeran Diponegoro maupun Belanda yang dibantu oleh Legiun Mangkunegaran.

Kemudian Pangeran Diponegoro juga menyebutkan tentang Joholanang di Tembang Sinom Pupuh ke 34 bait ke 26, ketika Pangeran Diponegoro di Pengasih Pangeran Diponegoro mendapat tamu dari utusan Jendreal Falk bahwa ada tawaran pertemuan dari Belanda kemudian Pangeran Diponegoro memanggil memberitahu tentang tawaran tersebut kepada Kyai Mojo dan paman pangeran Diponegoro yaitu Pangeran Ngabehi Joyokusumo. Pangeran Ngabehi Joyokusumo dan Kyai Mojo menyampaikan pada pangeran Diponegoro bahwa “ ini pasti bohong bohongan, ini pasti akan terjadi lagi seperti di Joholanang sudah ada tawaran berdamai dan ada tawaran pembicaraan akan tetapi akhirnya juga terjadi perang” dan kyai mojo mengatakan “ menurut kitab tidak ada kata damai lagi dengan Belanda yang sudah beberapa kali berkhianat ”.

Kemudian Pangeran Diponegoro juga menceritakan tentang Joholanang di Tembang dandhang gulo pupuh 35 bait ke 72 disini Pangeran Diponegoro menceritakan bahwa terjadi sebuah diskusi, ada utusan dari Kapten Roff untuk berdiskusi kembali dan menawarkan untuk berdamai. Pangeran Diponegoro pun menjawab sambil tersenyum “ ini betul berdamai tetapi sudah terlambat karena sudah memakan banyak korban , perang harus tetap dilanjutkan” Pangeran Diponegoro meneruskan menjawab “apa yang akan saya lakukan ketika nanti disana ( akhirat) bertemu dengan orang-orang yang sudah menjadi korban ketika perang di Joholanang yang disebabkan oleh pengingkaran janji ini.”

Desa Joholanang ini juga memiliki sejarah lain seperti bebrapa Ulama dan tokoh agama yang singgah dan membuat rumah disini sebelum menetap ditempat lain ada juga sebuah makam tua dari tokoh penyebar agama bernama Syech Sallim bin Birrud Balsamad Alhadad. Semoga cerita ini bisa menambah wawasan kita terhadap bangsa kita dan perjuangan para Pahlawan yang merupakan leluhur kita agar kita bisa lebih cinta terhadap tanah air kita dan Bangsa kita.

About mbah jukli


Follow Me

Tinggalkan balasan