Ampas Kopi

Topik

Ampas Kopi

 

Pelan-pelan mari kita seruput kopi masing2. Sambil membayangkan semua impian kita yg sampai saat ini belum juga terwujud. Pastinya dengan satu harapan pasti, -boleh juga kok kalo mau disebut ‘upaya penenangan diri’- bahwa suatu saat nanti Tuhan pasti mengabulkan semua yg kita inginkan. Apa saja.

 

Bicara tentang impian yang belum terwujud. Saya adalah salah satu dari -mungkin- banyak orang yang merasakannya. Kalo diibaratkan barang mungkin sudah ada dua atau tiga gudang untuk menyimpan barang-barang itu. Saking banyaknya impian yang belum terwujud. Entah Saya yang maruk atau memang Tuhan pikir Saya bercanda. Haha.

Lalu apa yang Saya lakukan dengan impian-impian inden itu? Apakah Saya lantas melupakan pesanan Saya begitu saja karena gak juga disajikan dimeja Saya? Atau tetap ditempat menahan lapar sambil sesekali mengumpat? Atau mendatangi meja kasir, memaki dan berteriak-teriak?

 

Saya memilih untuk diam, nyeruput kopi yang semakin dingin semakin terasa pahitnya. Bukan, bukan karena Saya penyabar. Saya pasti pernah mengumpat bahkan berteriak. Tapi sebisa mungkin umpatan dan teriakan itu Saya larutkan bersama seruput demi seruput kopi yang Saya nikmati. Ya, jadi secara tidak langsung saya menikmatinya. Sayang dong kalo dibagi-bagi. Kenapa harus dinikmati? Lah memangnya mau diapakan lagi? Haha.

 

Tuhan bilang ” Jika kalian nikmati akan Ku tambahkan nikmat lagi. Jika kalian kufuri, sungguh siksaKu amatlah pedih” begitu kira-kira yang Saya tangkap. Saya memang tidak pandai menghafal ayat.

Ya sudah Saya nikmati saja.

Memangnya sikap Tuhan yang tidak segera mengabulkan impian itu adalah sebuah kenikmatan? Saya tidak tahu. Toh dalam ayat tadi Tuhan tidak menjelaskan apa yang harus disyukuri dan dinikmati. Juga tidak menjelaskan spesifikasi nikmat yang akan ditambahkanNya nanti jika kita dianggap berhasil menikmati nikmat-nikmatNya yang terdahulu. Setahu Saya, ya memang begitulah Tuhan itu🤷‍♂️. Klop seperti salah satu namaNya dalam Asmaul Husna; Al-Bāthinu jalla jalaaluh.

 

Lalu apa kabarnya dengan impian-impian Saya tadi? Ya wallohu a’lam saja. Menurut Saya tidak ada yang lebih tahu ketimbang Sang Pengabul impian itu sendiri. Ya Tuhan itu. Banyak kan yang bilang kalo “Tuhan itu tahu, hanya menunggu” atau “Gusti mboten sare” (Tuhan tidak tidur) sebuah kiasan bahwa Tuhan bukanya tidak akan mengabulkan impian tapi justru Tuhan lebih tahu kapan kita siap menerima impian-impian itu terkabulkan.

Sama seperti ketika anakmu yang berusia dibawah delapan tahun misalnya, minta dibelikan motor trail. Kamu tidak mungkin kan begitu saja membelikanya motor trail. Meskipun uangmu ‘turah-turah’ untuk sekedar membelikanya helikopter. Atau, Meskipun pada akhirnya tetap Kamu belikan juga, tapi tetep dong gak mungkin Kamu bolehin anakmu itu nyetir sendirian..

Kamu tetap akan memberikan apa yang anakmu minta tapi nanti ketika kamu rasa kondisi anakmu cukup untuk mendapatkanya. Logisnya sih gitu ya😁

Jadi apa yang Saya alami selama ini tentang impian-impian yang belum juga Tuhan berikan ini ya Saya anggap semata-mata karena mungkin menurut Tuhan kondisi Saya belum cukup untuk menerimanya. Entah itu kondisi fisik atau mental Saya. Hahaha

Yang terpenting adalah dengan demikian tadi Saya jadi -mau gak mau- selalu berusaha husnudzon sama Tuhan. Iya, bahwa Dia sangat menyayangi Saya, lebih dari diri Saya sendiri.

 

 

Seruput kopimu…

0
Hadeeg Sukatriek 1 bulan 0 Respon 67 kali 2

Leave an answer