Bagaimana Tatacara Merawat Jenazah di Puncak Gunung?

Topik

Bagaimana cara merawat mayat/jenazah ketika berada diatas gunung? Dalam situasi yang sangat tidak memungkinkan untuk membawanya turun?

solved 0
Abdillah Ulinnuha 1 bulan 6 respon 93 kali 4

Answers ( 6 )

  1. Disucikan jika memungkinkan dimandikan, jika tidak mandi diganti dg tayammum.
    Kain kafan seadanya tidak harus putih, sobekan sarung pun bisa dipakai, minimal menutupi aurat. Penguburan seperti biasanya meski di gunung sangat memungkinkan.
    Wallahu a’lam

    • This answer is edited.

      jenazah sesama muslim itu wajib di
      1).mandikan
      2).di kafani
      3).di sholati
      4).di kubur

      Itu ketika semua persyaratan ada, lalu bagaimana jika tidak ada persyaratan? Atau susah di cari?

      1. Memandikan

      kalau ada air ya di mandikan,kalau tdk ada air ya di tayammumi (kalau adanya mayit susah untuk di bawa kebawah / perkampungan).atau ada air tapi hanya cukup untuk minum dan itu sangat dibutuhkan oleh org yg masih hidup.

      (وَيَلْزَمُ) عَلَى طِرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ)… الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ ) (قَوْلُهُ غُسْلُهُ) أَيْ أَوْ بَدُلُهُ وَهُوَ التَّيَمُّمُ كَمَا لَوْ حُرِقَ بِالنَّارِ وَكَانَ لَوْ غُسِلَ تَهَرَّى .

      Dan wajib menurut secara fardlu kifayah pada mayat yang muslim selain orang yang mati dalam keadaan ihram dan mati syahid (dalam pertempuran membela agama) empat perkara, yaitu: memandikannya, mengkafaninya, melakukan shalat atasnya dan menguburnya. Ucapan pengarang: memandikannya, artinya atau penggantinya, yaitu tayammum, sebagaimana andaikata mayat yang terbakar oleh api dan andaikata dimandikan maka dagingnya terlepas dari tubuhnya. [ Al Bajuri 1/ 242 – 243 ].

      إِنْ كان بِحَيْثُ لو غُسِّلَ تَهَرَّى لِحَرْقٍ أو نَحْوِهِ يُمِّمَ بَدَلَ الْغُسْلِ لِعُسْرِهِ

      “Apabila janazah dalam keadaan rusak karena terbakar atau lainnya yang andai di mandikan kulitnya akan terkelupas maka janazah tersebut ditayammumi sebagai pengganti dari mandi karena sulitnya melaksanakan pemandian”.
      di ambil dr kitab asnal mathoolib juz I halaman 305

      2. Mengafani

      Soal kain kafan ada perincian yang berbeda dari beberapa madzhab

      وفي أنواع الكفن وصفته تفصيل في المذاهب مذكورة تحت الخط ( الشافعية قالوا : لا يجوز تكفين الميت إلا بما كان يجوز له لبسه حال حياته فلا يكفن الرجل ولا الخنثى بالحرير والمزعفر إن وجد غيرهما وإلا جاز للضرورة ويكره تكفينهما بالمعصفر أما الصبي والمجنون والمرأة فيجوز تكفينهم بالحرير والمعصفر والمزركش بالذهب أو الفضة مع الكراهة والأفضل أن يكون الكفن أبيض اللون قديما مغسولا فإن لم يوجد ذلك كفن بما يحل فإن لم يوجد إلا حرير وجلد وحشيش وحناء معجونة وطين قدم الحرير على الجلد والجلد على الحشيش والحشيش على الحناء المعجونة وهي مقدمة على الطين ويجب أن يكون الكفن طاهرا فلا يجوز تكفينه بالمتنجس مع القدرة على الطاهر ولو كان حريرا فإن لم يوجد طاهر صلي عليه عاريا ثم كفن بالمتنجس ودفن وتكره المغالاة في الكفن بأن يكون غالي القيمة كما يكره للحي أن يدخر لنفسه كفنا حال حياته إلا إذا كان ذلك الكفن من آثار الصالحين

      ulama syafiiyah berkata : tidak boleh mengkafani mayit kecuali dengan yg boleh dipakai olehnya ketika hidup,karenanya mayit laki2 tdk boleh dikafani dengan kain sutera kecuali keadaan darurat.kain kafan yg paling utama adl kain putih,kalau tdk ada ya pakai selainnya.kain kafan di saratkan harus suci dan tdk terkena najis (jika mampu).kalau kain yg ada tdk mencukupi maka boleh ditutup dengan daun2an atau semisalnya.bahkan boleh dengan tanah (lempung).kalau tdk ada kain penutup yg suci maka jenazah di sholati dlm keadaan telanjang (ditutupi daun lebih dulu semisal daun pisang).setelah di sholati baru dikafani dengan kain yg nasjis.jikalau di temukan hanya berupa kain sutera dan kain yg najis maka yg digunakan lebih dulu adl kain sutera tsb

      Dari kitab Fiqh ‘ala Madzhabil Arba’ah

      3. Mensholati

      hukummayit muslim wajib di sholati,meskipun selama hidup dia tdk melakukan sholat (krn malas,bukan krn mengingkari kewajiban sholat 5 waktu)

      والمكلف (تارك الصلاة) الى ان قال (احدهما ان يتركها غير معتقد لوجوبها ) عليه جحدا، بان انكره بعد علمه به، او عناداكما فى القوت عن الدارمى (فحكمه) فى وجوب استتابته وقتله وجواز غسله وتكفينه وحرمة الصلاة عليه ودفنه فى مقابر المشركين (حكم المرتد)

      الاقناع ج.٢ ص ٢٤٨_٢٤٩

      org yg meninggalkan sholat beserta keyakinan bahwa sholat 5 waktu itu tdk wajib baginya,makanya di hukumi murtad.dab tdk boleh di sholati

      kitab iqna’ juz 2 hal 248 – 249

      و الثا نى ان يتركها كسلا) حتى يخرج وقتها حال كونه (معتقدا وجوبها فيستتاب، فان تاب و صلى) وهو تفسير للتوبة (والا) اى وان لم يتب( قتل حدا) لا كفرا (وكان حكمه حكم المسلمين) فى الدفن فى مقابرهم و لا يطمس قبره وله حكم المسلمين ايضا فى الغسل والتكفين والصلاة عليه

      فتح القريب المجيب بها مش الباجورى ج:٢ ص:٢٦٨

      adapun org yg meninggalkan sholat krn malas (tetep berkeyakinan kalau sholat itu wajib) makadi suruh bertaubat,kalau tdk mau bertaubat maka pemerintah boleh membunuhnya.akan tetapi dia ttp dihukumi muslim dan wajib di sholati.

      kitab ; fathul qoribul mujib

  2. Kalo mayate terpotong-potong, apa juga dirawat seperti itu? Apa perlu disatukan dulu semisal potongan-potongan mayat tidak ditemukan dalam satu cangkir kopi yang sama?

    • إِنْ كان بِحَيْثُ لو غُسِّلَ تَهَرَّى لِحَرْقٍ أو نَحْوِهِ يُمِّمَ بَدَلَ الْغُسْلِ لِعُسْرِهِ

      “Apabila janazah dalam keadaan rusak karena terbakar atau lainnya yang andai di mandikan kulitnya akan terkelupas maka janazah tersebut ditayammumi sebagai pengganti dari mandi karena sulitnya melaksanakan pemandian”.
      di ambil dr kitab asnal mathoolib juz I halaman 305

      Dalam kasus mutilasi apakah potongan tubuh yang ditemukan di kemudian hari, wajib dimandikan & dikubur jadi satu dengan potongan tubuh yang lainya ? Wajib (sekiranya bisa) , tapi tidak harus menggali potongan yang telah dikubur….

      وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ مُسْلِمٍ غَيْرِ شَهِيدٍ صُلِّيَ عَلَيْهِ بَعْدَ غُسْلِهِ وَسُتِرَ بِخِرْقَةٍ وَدُفِنَ كَالْمَيِّتِ الْحَاضِرِ ، وَإِنْ… كَانَ الْجُزْءُ ظُفْرًا أَوْ شَعْرًا لَكِنْ لَا يُصَلَّى عَلَى الشَّعْرَةِ الْوَاحِدَةِ

      قَوْلُهُ : ( وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ ) أَيْ تَحَقَّقَ انْفِصَالُهُ مِنْهُ حَالَ مَوْتِهِ أَوْ فِي حَيَاتِهِ وَمَاتَ عَقِبَهُ فَخَرَجَ الْمُنْفَصِلُ مِنْ حَيٍّ وَلَمْ يَمُتْ عَقِبَهُ إذَا وُجِدَ بَعْدَ مَوْتِهِ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ ، وَيُسَنُّ مُوَارَاتُهُ بِخِرْقَةٍ وَدَفْنُهُ .اهـ

      Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim maka wajib di sholati setelah terlebih dahulu dimandikan dan dibungkus dengan kain, dan juga dikuburkan selayaknya janazah yang hadir, meskipun bagian tersebut hanyalah kuku atau rambut hanya saja bila hanya sehelai rambut tidak perlu disholati.

      (Perkataan pengarang “Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim”) dengan syarat bila diketahui pasti anggota tersebut milik mayit saat ia sudah mati/saat matinya, atau saat hidupnya kemudian mati setelahnya, berbeda dengan bagian tubuh yang terpisah dari orang hidup namun ia tidak mati setelah anggautanya terpisah dan baru diketemukan saat ia mati maka tidak wajib disholati”.
      hasyiyah bujairomi juz 6 halaman 98

      Best answer

Leave an answer